Bahaya Rokok

Katak Endemik IndonesiaDua Jenis Katak Endemik Indonesia ini dan Penemunya Mengagetkan Dunia
Welcome
Berkat Penemuannya, Dua Jenis Katak Endemik Indonesia Ini Mengagetkan Dunia.

Mungkin agan sudah ada yang tahu setelah baca thread ane, ngga apa-apa gan, ane hanya ingin sharing untuk yang belum tahu Emoticon
Indonesia memiliki dua jenis katak yang asli endemik Indonesia, dimana keberadaan katak tersebut mengagetkan dunia keilmuan alam kemudian dianggap penting oleh dunia internasional. Kenapa dua jenis katak ini sebegitu pentingnya? Cekidot gan ...

Quote:Quote: Katak Yang Dapat Melahirkan
Limnonectes Larvaepactus

"Katak itu merupakan satu-satunya katak di dunia yang melahirkan kecebong."
Limnonectes Larvaepactus
http://en.wikipedia.org/wiki/Limnon...s_larvaepartus

Dunia bertanya-tanya, bagaimana bisa katak yang tak memiliki penis melakukan pembuahan di dalam tubuh? Bagaimana caranya menyetor sperma ke betina? Lalu, bagaimana mungkin katak tak bertelur, tetapi langsung melahirkan kecebong?

Spesies katak baru ini dinamai Limnonectes larvaepartus, sesuai dengan sifatnya, mampu melahirkan larva (larvae: larva atau kecebong, partus: melahirkan).

Katak itu ditemukan oleh ahli herpetologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Djoko Tjahjono Iskandar, serta rekannya sesama ilmuwan, Ben J Evans, ahli Biologi dari McMaster University di Kanada (http://www.biology.mcmaster.ca/evans/) dan Jimmy A McGuire dari University of California, Berkeley (http://ib.berkeley.edu/people/faculty/mcguirej)

Djoko Tjahjono Iskandar, Ben J Evans, Jimmy A McGuire
Prof. Djoko mempublikasikan penemuannya ini dalam jurnal Plos One. Bertajuk A Novel Reproductive Mode in Frogs: A New Species of Fanged Frog with Internal Fertilization and Birth of Tadpoles


Media sains dan umum di dunia internasional ramai mengutip publikasi tersebut. Sejumlah pakar reptil dan amfibi dunia menyatakan bahwa publikasi tersebut mengagumkan sekaligus sangat berharga.

Makalah memuat penemuan spesies baru katak bertaring Sulawesi, Limnonectes larvaepartus. Bukan cuma kebaruan jenis yang membuat dunia terkejut, melainkan juga kebaruan reproduksinya.

Ia menyatakan bahwa jenis ini sudah dijumpai sejak dia melakukan survei keragaman katak di Sulawesi pada tahun 1996 lalu. Namun, identitas katak ini sebagai spesies baru belum bisa ditetapkan sebab belum ada bukti perilaku melahirkan.

Lalu kemudian perilaku atau bukti yang dibutuhkan berhasil dilihat saat Djoko dan tim melakukan studi lapangan di Sulawesi. Satu kali kesempatan, ia dan tim melihat adanya kecebong hidup dalam bagian sistem reproduksi.

Kecebong Limnonectes Larvaepartus
Kecebong di dalam sistem produksi (dikandung) katak Limnonectes Larvaepartus.

Kecebong Limnonectes Larvaepartus
Kecebong Limnonectes Larvaepartus

Hingga kini, perilaku melahirkan ini masih misteri. Bagaimana bisa katak yang biasanya melakukan pembuahan eksternal (tidak ada penyatuan antara sel sperma dan sel telur dalam tubuh) bisa melahirkan? Tampaknya masih harus diteliti lebih fokus dan dalam tentang hal ini.

Katak Limnonectes Larvaepartus

Katak Limnonectes Larvaepartus

Selain foto saat pembedahan, sebelumnya tim ilmuwan melihat adanya gerakan didalam tubuh katak Limnonectes larvaepartus. Seperti ada "sesuatu" didalam tubuhnya, fenomena ini sempat direkam.

Spoiler for Cek gan:

Limnonectes larvaepartus disebut sebagai satu-satunya jenis katak yang mampu melahirkan kecebong dan satu dari 12 jenis katak yang mengalami evolusi fertilisasi internal.

Limnonectes larvaepartus, ditemukan di wilayah Sulawesi Tengah, dinyatakan sebagai spesies endemik. Penyebarannya belum diketahui secara pasti sebab survei keragaman dan populasi katak di pulau itu hingga kini masih minim.

Pulau Sulawesi
Pulau Sulawesi, Indonesia

Katak itu biasanya hidup dalam rentang jarak 2-10 meter dari perairan. Secara fisik, katak unik karena memiliki tonjolan serupa taring dan warna emas di area punggung. Sulawesi dipercaya merupakan rumah bagi sekitar 25 jenis katak bertaring. Di tengah eksploitasi hutan di Sulawesi, katak endemik ini perlu dilindungi. Kepunahan jenis ini dan jenis lain yang belum ditemukan mengancam bila perusakan lingkungan terus dilakukan.

Quote: Quote: Katak Tanpa Paru-Paru
Barbourula kalimantanensis

"Waktu itu geger juga. Jenis itu adalah satu-satunya katak di dunia yang tidak memiliki paru-paru, bernapasnya dengan kulit"
 Barbourula kalimantanensis
Prof. Djoko mengaku menemukan jenis katak itu di Sungai Pinoh, bagian dari Kapuas, Kalimantan Barat.
Katak yang langka ini merupakan satu-satunya jenis katak di dunia dan juga endemik asli Indonesia, yang diketahui tidak memiliki paru-paru; meskipun ketiadaan paru-paru ini juga ditemui pada beberapa jenis amfibi lainnya seperti pada salamander dan juga sejenis sesilia. Katak ini bernama lain Bornean Flat-headed Frog atau Kalimantan Jungle Toad atau Katak Kepala Pipih.

Di tahun 2008, hasil penelitiannya yang mengungkap bahwa katak jenis ini tidak memiliki paru-paru dipublikasikan di jurnal Current Biology.


Studi kemudian mengungkap bahwa populasi Barbourula Kalimantanensis sangat minim. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan bahwa spesies tersebut terancam punah dalam waktu dekat.

Katak Barbourula Kalimantanensis
Spesies ini hanya dikenal dari menempati dua daerah yaitu Anak Sungai Kapuas di Nanga Sayan dan Sungai Kelawit, Nanga Pinoh yang terletak di tengah-tengah hutan hujan tropis. Katak langka ini menyukai wilayah sungai yang berair dangkal namun jernih, dingin, berarus deras, dan berbatu-batu.

Nanga Sayan
Nanga Sayan, Kalimantan Barat, Indonesia

Kabupaten Melawi
Nanga Pinoh

Para ahli memperkirakan, ketiadaan paru-paru ini sebagai bentuk adaptasi Katak Kepala-pipih Kalimantan terhadap lingkungannya yang berair deras dan kaya oksigen. Dengan kondisi tersebut, Kepala-pipih Kalimantan memanfaatkan permukaan kulitnya untuk menyerap oksigen, dan menghilangkan paru-paru yang menjadikan tubuh katak sukar menyelam dan mudah dihanyutkan arus.

Katak Barbourula Kalimantanensis
Kalimantan Barat
Kalimantan Barat, Indonesia

Sayangnya populasi katak ini tidak dapat diketahui. Diyakini memiliki distribusi yang sangat terbatas (kurang dari 500 km persegi) serta populasi yang sangat kecil dan memiliki tren penurunan. Ancaman terhadap spesies ini sangat tinggi karena adanya aktivitas penambangan emas ilegal dan rusaknya sungai-sungai akibat endapan dan pencemaran limbah merkuri. Dipengaruhi juga akibat deforestasi (perusakan hutan) yang terus terjadi di Kalimantan.

Quote:Original Posted By positiveminds

Katak tersebut ditemukan oleh ahli ilmu alam. Salah seorang ahli ilmu alam, herpetolog, dari Indonesia bernama Prof. Djoko berperan besar disana.
Saking besarnya peran beliau, dunia keilmuan alam dibuat emeeejiing olehnya Emoticon

Siapa dia gan? Yuk kenalan ...

Quote:Quote:Sang Herpetolog Indonesia
"Saya kan tidak mau jadi raja sendiri, perlu musuh, butuh orang yang bisa membantah saya"
Djoko Tjahjono Iskandar
Prof. Dr. Djoko Tjahjono Iskandar

Djoko Tjahjono Iskandar adalah herpetolog (pakar amfibi dan reptil). Ia adalah ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berkali-kali membuat dunia sains seakan takjub lewat temuan-temuannya.

Pria kelahiran Bandung, 23 Agustus 1950, tersebut memulai karier sebagai herpetolog pada tahun 1978. Pilihannya menekuni katak dan reptil sangat tidak populer.

"Waktu itu belum ada ahli katak di Indonesia. Saya satu-satunya. Bisa dibilang saya pioneer"

Untuk menekuni katak-katak Indonesia, dia harus belajar dari ahli dari luar negeri. Ia berkorespondensi lewat surat, salah satunya dengan Robert Frederick Inger, ahli katak dan reptil dari Field Museum yang juga banyak mempelajari keanekaragaman hayati Indonesia.

Ia meraih gelar doktor dari Université Montpellier 2 di Montpellier Perancis. Dan penghargaan Habibie Awards sudah pernah ia raih.


Malang melintang dalam dunia ilmu katak dan reptil, dan telah menjelajahi hutan di sebagian besar wilayah Indonesia. Sepanjang kariernya, ia telah menemukan 30 spesies katak dan reptil. Beberapa spesies menggunakan namanya, seperti Luperosaurus iskandari, Fejervarya iskandari, Collocasiomya iskandari, dan Draco iskandari.

Prof. Djoko mengungkapkan, sebenarnya banyak spesimen yang belum bisa diidentifikasi. "Saya sudah temukan 30, tetapi masih ada sekitar 150 yang belum bisa saya ungkap"

Alasan belum bisa terungkap, menurutnya adalah spesimen yang belum lengkap jantan dan betinanya serta adanya spesimen yang rusak. Jika spesimen minim, pernyataan kebaruan jenis dapat dengan mudah dibantah sebagai hanya variasi.

Usia Profesor Djoko kini sudah diatas 60 tahun. Penjelajahan ke hutan-hutan baginya tetap merupakan kegiatan paling menyenangkan, tetapi tak lagi semudah sewaktu dia masih muda dahulu.

Dengan banyaknya spesies yang belum terungkap, baik dalam koleksi maupun di alam, ia berharap ada lebih banyak orang yang menaruh perhatian pada katak dan reptil. Walaupun, mempelajarinya tak akan banyak mendatangkan manfaat ekonomi segera.

Menurutnya, saat ini sudah muncul beberapa pakar katak dan reptil berpotensi. Namun, masih perlu lebih banyak lagi khususnya para remaja yang tertarik untuk menjadi penerusnya. Mempelajari keanekaragaman hayati akan membuat siapa pun sebagai warga negara merasa puas karena diakui sekaligus bangga karena telah peduli pada alam Indonesia yang mahakaya.

Sungguh kuasa dan ciptaan Tuhan sangat besar adanya, masih banyak misteri di alam semesta ini yang belum terjamah dan terungkap.
Penemuan dan hasil penelitian ini dianggap penting bagi dunia keilmuan khususnya ilmu alam, karena kedua jenis katak tersebut bukanlah jenis yang umum. Penemuan ini bisa saja membuka lembaran penelitian-penelitian yang lain, yang mungkin hasilnya akan menguak ragam jenis baru lainnya, who knows Emoticon

Peranan aktif masyarakat bersama pemerintah lagi-lagi diperlukan untuk menjaga keanekaragaman ini sebagai warisan untuk anak-cucu dimasa depan.
Demikian gan semoga menambah pengetahuan kita, dan maaf bila ternyata repost ya ganEmoticon


Kaskus
Source: http://kask.us/ihDc1
Pasang Iklan
close