Bahaya Rokok

Bokap setuju ane sebarin di kaskus (PUITIS GAN !)

Tags: Knowledge - Art - Interest - Literature - Book - Lifestyle - Activity - Inspiring
puja992
UserID: 5752247
WELCOME TO MY THREAD

SELAMAT DATANG AGAN SISTA

Quote:SINOPSIS: Quote: Jadi gini. Ane punya bokap yang menurut ane biasa aja. Malah agak pendiem. Tapi pas ane di suruh cuci gudang di rumah nenek ane, ane nemuin buku yang udah lusuh berdebu di belakang lemari. Dan isinya ternyata sajak !
Ane tanyain dah sama bokap. Dan memang waktu jaman sekolah dulu bokap ane sering nulis. Tapi anehnya bokap ane cuma lulusan SMA jurusan agama dan buku ini lengkap full 38 lembar berisi sastra puitis. Cekidot aja langsung. Siapa tau aja bagus gan.

Quote:MY NOTE: Quote: Atas tanggung jawab ane sama bokap, ane minta buat yang copas mohon cantumin nama bokap ane. namanya (Adnan Dede Haris), ane respect jika agan share karya bokap ane ini dengan baik
Quote:ALL ABOUT OF ADNAN DEDE HARIS: Quote: 1. Namanya senja. Dia kawan untuk mengenangmu saat ini. Tapi dia bisu meskipun aku terus berceloteh tentangmu. Hanya gerimis di matanya yang berkilauan dan mengkristal.

2. Hilangkan lelah kenangan tadi malam, seseorang bahkan masih terletih-letih di kamarnya. Lupa ia menyibakkan tirai airmata dan mematikan pelita rindu. Juga masih mabuk karena selintas senyummu dimimpinya lah penyebabnya.

3. Dan bila ia telah lama jenuh menunggu, dan aku sudah lelah mencari, bagaimana kami kan kau pertemui?

4. Perempuan adalah misteri, Mata perempuan saja sudah sedalam lautan, bayangkan sedalam apa hatinya.

5.Cinta saja bisa sulap, apalagi rindu.

6. Ketika kau lihat dia sekarang, fikir jua lah dia seorang penghibur kesusahan, seorang yang tenang jiwa nya, seakan dia kau sangka tak punya beban hati. Tapi sebenarnya dia seorang pemenung, penghiba hati, batinnya bertarung diantara harapan kosong dan keinginan yang patah, suka menyisihkan diri ke sawah yang luas, suka merenungi wajah merapi, dan sering dia melamun seperti para perokok berat. Yah itulah, kau sedang memandangku !

7. Cinta itu subjektif. Dan berpisah kadang jadi jalan yang paling objektif. Hanya kamu yang terlihat samar; kau tak nyata ! Kau siapa ?

8. You still make me smile, in my nightmare.

9. Terkadang bingung harus memilih mengenang apa hari ini. Jika cuaca sampai panas membakar akan membuatku mati kehausan rindu. Pun jika
hujan gerimis turun menggenang lah ia di langit-langit dadaku sampai sesak.

10. Sungguh. Setelah perempuan-perempuan ikut tidur bersama anaknya, setelah anak muda selesai mengaji di surau, setelah ayam masuk kandang, setelah semua lampu dipadamkan, setelah tikus dimangsa burung hantu, dan nasi makan malam telah dingin, dia masih terpaku melihatkan bulan terang benderang, bulan di antara tanggal 15 dan 16. Dia ajak alam besar itu bertutur, percakapan jiwanya sendiri, seakan mengadukan nasibnya yang malang, yang patut alam itu ikut meratapinya

11. Jalanan basah, rerintik gerimis, purnama bercahaya, aku dan kamu saling melempar senyum, berjalan bergandengan dalam khayalan.

12. Lalu pada malam itu, naik lah dua doa permohonan gaib ; sedang engkau terisak meminta aku agar hilang dari hatimu, dan aku hanya meminta padaNYA dengan sisa cahaya yang redup disana. Lalu tuhan pun menertawakan..

13. Dilembaran hari yang mana dariku kau akan berhenti bersembunyi? Aku takut jika akhirnya aku terbiasa sendiri lalu berhenti mencari.

14. Hanya menjadi tissu penyeka air mata yang mengkristal di pipimu saat kau menangis, lalu kau buang di sudut gelap hatimu. Ah, sial. Sekarang kemana harus ku cari penghapus kesepian saat ku butuh. Engkau ?

15. Terimakasih. Hanya dengan ber 'Hai' saja kenangan selama apapun akan terobati. Seperti musafir gurun pasir yang hanya diberi segelas air saja. Meskipun belum cukup sembuh ternyata.

16. Kau begitu langit yang jauh terengkuh. setetes gerimis rindu malam ini hanya mengingat kau tersenyum, aku meleleh. kau menangis, aku sakit. Sial.

17. Untuk jodohku yang disana, cantik dan kaya juga tidak apa. Asalkan sholehah dan terimaku seadanya. Selamat malam minggu saya(ng). aku
single, Kamu siapa ?

18. Bunga yang bermekaran dipinggir jalan juga mulai ikut berganti. Aku masih berfikir apa nama bunga yang bermekar di musim itu.? Ah, bukan urusanku sekarang. Yang jelas aku ingat saat tertiup angin dulu, bergemetar tanganku mengingat harumnya yang memabukkan rindu.

19. Bukanlah maksud. Jangan tersenyum seperti itu padaku, aku tak mau separuh hatimu jatuh tertinggal disini. Mewariskan benih yang nantinya terkadung menjadi cinta dan rindu.

20. Kau dilahirkan dengan kemampuan untuk terbang setelah jatuh. Tapi kenapa kau memilih untuk merangkak setelah itu ?

21. Bermacam2 perasa'an yang bergelora hebat semalam itu dan jiwa nya ganjil, beraneka warna; bercampur diantara cinta dan takut, kesenangan pikiran dan kesedihan, bertempur di antara pengharapan yang besar dan keinginan yang dirasakan patah. Dalam dia menangis, tiba-tiba berganti tersenyum. Dalam senyum dia kembali mengeluh panjang. Entahlah, dia sendiripun masih ragu. Padahal biasanya senyuman dan air mata itu adalah dua musuh yang tak mau berdamai.

22. Nanti, pada waktunya, aku akan menjadi ayah, kakak, teman, suami, kekasih, imam dan segala peran yang kau butuh agar nyaman. Percayakan saja padaku, bila kau mau, pasti ku mampu.

23. Rindu barangkali deret harap yang patah di lelah penantianmu. Sedangkan cinta, mungkin ia hanyalah sinonim dari sesuatu yang telah lama hilang. Sama saja.

24. Tuhan tidak pernah tidur. Dia ciptakan kopi sebagai barang bukti. Selamat malam para penikmat insomnia.

25. Kadang aku ingin menjadi seekor semut, yang mati bahagia saat coba meraih ujung senyum manismu, manisku.

26. Kau lah entah yang belum juga mampu ku jamah, sedangkan aku pengembara yang mulai lelah, bersandar pada doa-doa yang tabah.

27. Bila kau, ragu yang menggantung di ujung dedaun itu. Maka doaku pastilah reranting, yang menahanmu dari jatuh, memelukmu dari jauh.

28. Misalnya kau mengacuhkanku, takkan aku gelisah. Anggap saja kini aku menjelma angin, tak mungkin tak kau hirup meskipun kau tak ingin. KARENANYA KAU SEBAGAI UDARA, YANG DIHISAP DALAM LIKU NAFAS HIDUPKU YANG TURUN-NAIK

29. Hanya sesaat saja, dan itupun membuatnya retak terbelah. Bukan sepele jika dibiarkan terlalu lama. Karena sama pentingnya dengan sikat gigi waktu malam, yang membuatmu takkan mudah tidur karena sakitnya.

30. Bener-bener gak ngerti deh sama kelakuan anak kucing jaman sekarang.

31. Bulan sabit, secangkir cappucino dan sebuah file curian bernama '428214_n.JPG'. Ah, maaf. Belum sempat kuganti menjadi 'KAU.jpg'.

32. Saat tak seorang pun bisa diajak bicara. Aku terkadang bercerita pada segelas kopi, lalu menyeruput kesunyian dalam- dalam, menghirup pahit manis aroma kenangan.

33. Inginku menjadi korek api. Walau tak mampu menyala sendiri, setidaknya mungkin dapat menawarimu hangat, saat kau merasa sepi dalam dingin yang pekat. Saat mentari pagi datang terlambat.

34. Ketika jatuh cinta, akan ada satu nama yang mengencangkan debar jantungmu. Saat terluka, nama itu meloncat ke paru-paru, mencekik, menyesakkan seluruh hela napas di dadamu.

35. Masih berusaha keras untuk "menjadi diri Anda"? Mengapa Anda tidak menerima permintaan saya untuk "menjadi milikku". Itulah lebih mudah.

36. Adalah kau, pelita yang pudarkan gulita. Seseorang yang selalu kupinta dalam doa-doa, yang masih Tuhan jaga, hingga akhirnya nanti kita bersama.
37. Aku melihat kebahagiaanmu seperti melihat pelangi. Cahaya yang berada diatas kepala orang lain. Dan aku pun terusir menjadi bayanganmu.

38. TERIMAKASIH TELAH MENJADI ALASAN KU UNTUK SENYUM-SENYUM SENDIRIAN

Menurut agan yang bagus mana? kalo ane sendiri suka sama nomor 32

Masih banyak yang ga ane tulis di sini. Sekedar shareable buku bokap. Tapi yang misteriusnya kata ''ENGKAU'' di sana ane kaga tau. Yang jelas pas ane tanyain tuh syair buat siapa bokap ane cuman tersenyum gan

Ane yakin bokap dulu temenan sama Chairil anwar atau penyair-penyair hebat lainnya yang karyanya melegenda. Sekali lagi, kalau agan sama sista mau copas cantumin nama bokap ane. Minimal beliau di hargai di situs terbesar ini. Namanya Bapak. Adnan Dede Haris. Semua nama belakang anaknya sama. Kaya kaka ane, Riki Riswan Deris


Quote:UPDATE: Quote:
Spoiler for Part II:
39. Bagaimana bisa, menahan rindu yang terus terasakan, layaknya jemuran yang terus menerus tersiram air hujan, dan akhirnya ia meneteskan.

40. Malam ini, tak ada kopi, pun tak ada roti. Melainkan kicauan lelaki mensyairkan bait demi bait puisi. Selamat malam (maaf) putri perindu hati.

41 Semua terkadang tentang kamu, Rindu. Tentang bagaimana aku mendengarkan, meskipun ada saja yang diabaikan. Oh ya, satu lagi, Aku siapa?

42 Ingin rasanya ku utarakan kepada Tuhan, betapa terusnya aku menjadi pungguk yang hanya merindukan bulan, yang tak bertepi namun tak terbalaskan. Seperti elang malam yang mengusik kesepian malam di dahan yang hampir terpatahkan.

43. Aku telah terbaring di padang rumput berbunga putih kecil, Memandang langit yang sepertinya sangat dekat. Bernapas sesuka hati, mengangkat tangan meraih awan. Dan lalu tersadar langit itu masih saja jauh, Kemudian tertawa..

44. Memetik gitar di malam hari. Nggak tahu juga sih apakah berbuah atau enggak.

45. Hidup bukanlah menunggu badai berlalu, tapi belajar bagaimana menari di kala hujan.

46. Ternyata bukan hanya aku. Bintang pun sekiranya kesepian karena tidak ada orang yang mengharapkannya malam ini. Dan kita pun masih di lahirkan di langit yang sama. Aneh sekali.

47. Maka selain dan beberapa alinea kata yang telah ku janjikan, kiranya ku baca isyarat darimu bahwa hadirku tak lagi kau butuhkan.

48. piye kabare sayang. Enak jamanku to ?

49. Yang mengintip hatimu selalu aku, dan yang mengintip hidupku hanya ajal.

50. Kita seperti kembang api, naik ke atas langit, bercahaya, dan yang pasti akan bertebaran berpisah. kalau ketika saat itu tiba, kau tidaklah perlu lenyap seperti kembang api, tetaplah bercahaya di atas langit hati sampai kapanpun.

51. (saya)ng itu mahal. Dan bagiku engkau sebuah mutiara.

52. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis, suaramu abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

53. Dan Bolehkah aku duduk di sampingmu, menyandarkan kepalamu ke bahuku, menikmati indahnya senja hingga akhirnya aku tersadar dari lamunanku ?

54. Kau hanya melihat satu pohon saja.Tidak melihat seluruh hutan. Jangan pertanyakan berapa banyak rindu ku padamu, ,jelajahi seluruhnya, maka kau akan dapatkan jawabannya.

55. Air mata itu terdiri dari 1 % air dan 99 % perasaan. Maka seharusnya tak ada yang bisa membuatnya menetes, kecuali kebahagiaan.

56. Beberapa orang dah datang mengajak tuk merayakan tahun baru bersama, tapi belum seorangpun yang mengajak tuk menempuh hidup baru bersama. Nasib

57. Ya biasa aja sih jika level emosi anda sudah di tahap mencintai bukan berarti harus memiliki. Kurang tepat sepertinya bukan rasa yang mati, cuma harapan yang mati. Justru rasa yang terus hidup meski di bunuh berkali2. Haha

58. Gimana rasanya mendengarkan cerita dari dia yang kita sayang tentang dia yang dia sayang?

59. Seberapa indah mimpi, jika tetap hanya sekedar mimpi? ah, begadang segan, tidur tak mampu.

60. Keinginan tuk bisa mendapatkanmu telah melampaui batas ketabahan doa-doaku melintasi waktu. Kini kau cukup ku simpan di mimpi saja.

61. Dalam Roman karya angkatan Pujangga Baru. Gak ada tuh konsep move on. Sekali mencinta sudah itu mati. Begitu setia.

62. Kita memang tak dapat menyenangkan semua orang, maka keputusan terbaik adalah yg paling sedikit melukai perasaan orang lain.

63. Kau belajar menanak nasi denganku, namun kemudian pergi membeli rice cooker dengan yang lain. Bedebah memang.

64. Hujan, Hujan Hujan klo sudah gede mau jadi apa? ~

65. Klo sudah merasa tak kuat sama setan lambaikan tanganmu ke kamera, klo sudah merasa tak kuat sama pacarmu lambaikan saja tanganmu kepadaku.

66. 25 penyakit ada di miras. 15 penyakit ada di babi. Miras dan babi diharamkan.. 4000 zat kimia beracun ada di rokok. Patutnya rokok diapain? | dibakar..

67. Hujan tak juga reda, seseorang yang biasa kusebut 'aku' saat berbicara denganmu, sedang melamun di balik jendela, berharap kau menyapa, sebelum rindunya kadaluarsa.
68. Ada dua makna dalam gerimis, Hujan, dan 'I miss..'

69. Kesedihan itu; mengecil jika dirahasiakan; membesar jika dikeluhkesahkan; terurai jika diadukan pada Allah; merumit jika diumbar pada manusia.

70. Tujuan hilang, jalanan sepi. Datang dan bawalah aku pergi, hanya itu doaku. Perlindunganmu, kau miliku, berkatilah aku dengan doamu. Beri aku alasan baru, mimpi untuk sayapku terbang. apa kau mendengar?

Spoiler for Part III:
71. Ku kenali hatiku sendiri. Kadang tampak begitu kuat meski rapuh tak ayal selalu menyentuh. ini lah hidup dimana keabadian itu takkan pernah ada, karena semuanya akan pergi dengan cara yang manis ataupun pahit. terserah.

72. Malam kemarin, kita berdua, seperti biasa.

Ke puncak gunung dan dasar lembah, di mana kau hunuskan pedangmu dan kuayunkan perisaiku. Lalu kita tenggelam dalam petualangan mencekam yang merebut nafas dan mendebarkan jantung, penuh gairah dan cinta.

Lagi dan lagi, tanpa jeda, sampai kepuasan menjemput dan setiap rasa di benak terekam tanpa cela. Sampai setiap irama hati terbuai lelap dalam perhelatan dua jiwa yang selalu haus cerita. Dan kelak senyum tersemat di ujung, seusai noktah termaktub.

Mari kita bercinta dengan kata

73. Menunggu atau ambil apa yang ada?! Ah Manusia, berapa banyak waktu yang sudah mereka habiskan untuk menunggu?

74. Drama seorang lelaki itu ada di dalam keheningannya, diantara sunyi sepoi malam yang mengubah banyak pemikiran.

75. Yesterday's gone, today is here. You'll never be alone, as long as I'm here. Althought even i'm is no one and don't want to be anyone.

76. Ramai tak menjanjikan sebuah senang, sayang. Sebab kadang bahagia itu berada di antara sunyi yang berlalu lalang.

77. Saat ada yang meninggal, orang2 bertanya tentang kenapa dia meninggal. Namun saat ada orang yang lahir, tak seorang pun yang bertanya kenapa dia hidup.

78. Sialnya terlahir sbg lelaki adalah diberi hak tuk memilih. Dan siapapun wanita yg dipilih, pasti ada yg terluka karenanya. Pun sebaliknya.

79. Para lelaki mempercayai Tuhan dengan cara berani mengambil resiko untuk ditolak, sedangkan perempuan dengan menunggu.

80. Entahlah, saya tak mengerti melihat orang2 yang tampak lebih sibuk tiap menjelang sabtu malam.

81. Rerintik hujan serupa melodi sunyi yang berjatuhan, pinjami aku hangat sapamu sebelum seluruh rasa ini membeku, sayang.

82. Pada dasarnya wanita itu cuma perlu merasa dicintai sedang lelaki perlu merasa dibutuhkan. Itu saja.

83. Beginilah resiko jadi pria setia, gak pernah bisa bergenit ria sini sana.

84. Kepada sunyi, seribu puisipun bisa kuberi. Namun kepada yang disukai, semua kata-kata seolah terkunci, yang tersisa hanya debar hati yang tak terkendali. Ah sialan.

85. Maaf Tuhan, 114 surat yang kau kirim, belum sempat ku balas. ~ Lupa

86. Sudahlah. Tak usah coba mengartikan cinta, saat cinta salah kau pahami, kau yang akan kecewa sendiri. Mencintailah tanpa alasan apapun, itu kuncinya.

87. Selamat malam, Nona. Adakah hangat sapamu akan datang memeluk rinduku yang menggigil kehujanan?!

88. Jam sudah berputar lama sekali. Apa rinduku setua ini ?
89. Sedang berada di malam minggu yang sesat, terjebak di sebuah daerah yang langka minyak tanah dan minim stock kasih sayang.

90. Jika kau mau aku jadi imam mu, segeralah ambil wudhu. Selamat maghrib di senja kini

91. Sedangkan aku membutuhkan seorang yang mau menemaniku berpijak di bumi. Manusia tak dicipta dengan sayap dan kemampuan terbang. Itu tugasnya burung.

92. Aku suka perempuan baik, yang dengan kebaikannya mau berbaik hati menyukaiku.

93. Dilangit subuh dapatkah kau lihat bintang? Ya, kau seperti mereka, bercahaya, berkelip, bersinar, indah. Tapi terlalu jauh, diam dan angkuh, sangat melelahkan tuk direngkuh.

94. Malam ini turun kabut, sudah lama ku tak melihatnya. Terakhir kali aku melihat kabut turun dari matamu, diperempatan itu beberapa tahun yang lalu. Dan kini, kita tak pernah lagi bertemu.

95. Baru saja menghabiskan nasi goreng penuh cinta buatan ibu, lalu berdoa bahwa kaulah yang kelak akan melakukan hal yang sama pada anak-anak kita.

96. Waktu itu lama bagi yang menunggu, cepat bagi yang takut, bosan jika menganggur, dan ABADI bagi yang MENCINTAI

97. Entah kenapa setiap orang sering berebut posisi pertama, padahal dua tiga empat rasanya lebih nikmat.

Spoiler for Part IV:
98. Aku hanya bersembunyi di sisi rindu yang meredup. dari jendela kamarmu sekarang ada pelita lain yang bercahaya. Dan bintang di langit kotamu bilang padaku bahwa ia cemburu

99.Ku lihat kenangan itu ikut terpejam di keheningan gerimis senja. Tangannya pun bergemetar menahan rindu yang menggema di langit-langit dada. Sesak. Berkabut mata.

100. Di pagi buta aku menanti, menepikan semua sepi, mengemas segala cemas agar matahari terbit setiap pagi, di hati

101. Aku terkadang, mematikan lampu tidurku. Sesuatu yang bernama rindu, mulai kuhidupkan. Cahayanya terang, mengalahkan sinar lampu.

102. Hujan turun bersama petir-petirnya. #GanyangPLN

103. Lelaki berpikir dengan Logika, sementara wanita dengan Perasaan. Jadi harus menikah agar menjadi Logika yang Berperasaan.

104. Jika hidup adalah pilihan, semoga itu berbentuk pilihan ganda, yang menyediakan opsi jawaban e, semua benar.

105. Jangan konyol karena susah payah berusaha mematikan kenangan. Lebih baik matikan tv, matikan aki, matikan lampu kamarmu, lalu tidurlah.

106. Cinta itu, kupikir yang berlarian di sabarmu, menjelma di senyummu, membisik di khusyuknya doadoamu untukku.

107. KALA KU SOWRAANG DIRIII
.diri diri diri.. (ini echo)
HANYA BERTEMAN SEPI DAN ANGIN MALAAAAAM. ~ jeng jeng jreng..

108. Ya udah. Tidurlah, siapa tau besok bangun.

109. Adalah diam, satu-satunya caraku mencarimu diantara ribuan hari yang telah berlalu. Makanya gak ketemu-ketemu.

110. Yang selalu terbayang itu kamu ? Kenalan yuk.

111. Demikian seperti itulah, selamat malam. Sekarang marilah kita ngapain.

112. Waktu terus berjalan, orang-orang berubah, pergi dan tak lagi kau kenali. Tak ada yang harus disalahkan. Tak akan semua itu bisa terhenti.

113. Di sebuah pertengahan malam, seseorang menceritakan kau sebagai hujan bulan maret orde baru. Ada yang masih saja tinggal setelah jauh beranjakmu.

114. Sementara langit menghujan, kulemparkan senyum pada hangat segelas kopi di lamunan.

115. Seusai pukul delapan belas, burung dan matahari pulang bergegas. Di sini hanya tinggal angin yang resah dan sekumpulan mimpi patah yang bersiap kembali singgah.

116. Diamlah, aku sedang sakit kepala; di dalamnya terlalu banyak senyummu yang menghilang di suatu pagi.

Spoiler for Part V:
118. Pernahkah anda begitu berharap pada sesuatu dan bertahan melawan semua hal yang ada, sampai akhir anda menyesalinya? Seberapa jauh anda sudi luluh, terjatuh untuk cinta?

119. Hidup pasti berubah, seringnya ke arah yang tidak kita perkirakan. Kalau mau menyerah sekarang tidak masalah, tapi kita tidak tahu sudah sedekat apa kita dengan keberhasilan.

120. Jangan cuma sibuk menjaga perasaan orang lain, perasaan anda sendiri juga butuh dijaga.

121. Tidak perlu ada paksaan. Tak harus ada rasa kekecewaan. Sebab apa yang waktunya jatuh, akan jatuh. Yang akan jadi milikmu, akan jadi milikmu, pada waktunya. Merdekah!

122. Kegantengan jumat kemarin juga masih tersisa banyak banget, skr dah harus jumatan lagi aza. Haduh..

123. Saat kau memilih teman berhati-hatilah. Saat kau meninggalkan seorang teman, lebih berhati-hatilah.

124. Selamat pagi. Sudah tamat kah pelajaran bersedihnya?

125. Heh Kamu kalau perbaharui diary nya sedih terus lama-lama saya bahagiain lho.

126. Sejak dari hidupku kau menghilang pergi, kau hanya melupakanku satu kali. Sedangkan aku telah melupakanmu ribuan kali.

127. Kita duduk di bangku taman, bergandeng tangan, bercerita tentang hidup, bertukar harap yang takkan redup. menghabiskan waktu, sore itu.

128. Siang ini aku tidak akan banyak menulis, tinta sudah habis, namun tenang saja, nama mu sudah ku coret-coretkan di langit-langit doa pagi tadi.

129. Selamat sohore kalian-kalian yang tetap bertahan dengan pasangannya karena takut merasa kesepian. Yuk kita main bola lagi..

130. Kalau saja dulu saya tidak lalai soal waktu dan kesempatan, mungkin dunia sudah saya genggam. Seperti inilah, kehidupan tak pernah memaafkan kelemahan.

131. Selamat senja, masih setia merawat luka?

132. Ada 'Tuhan' dalam 'kebutuhan'.

133. Aku menyukaimu dengan tulus, namun jika hanya dijadikan pelarian olehmu, berarti kau jahat. Tapi jika setelah mengetahuinya aku masih saja menyukaimu, itu berarti aku yang bodoh.

134. Dan kita tak pernah mengerti, hanya bisa sesekali merasakan; sepasang mata basah, yang dari setiap sudutnya mengalir doa sia-sia, merayakan cinta yang kalah.

135. Mending tersesat di hati yang salah atau terdampar di hati yang menyerah?

136. Mending terima apa adanya atau mending perbaiki apa yang ada?

137. Selamat pagi saudara sepertunduhan. Sungguh sabtu pagi yang ngantuk sengantuk ngantuknya ngantuk.

138. Sejak dari hidupku kau menghilang pergi, kau hanya melupakanku satu kali. Sedangkan aku telah melupakanmu ribuan kali.

139. Ada yang enggan berkelana sebab masih senang bermain dengan luka masa silamnya, seperti itulah aku tersesat di keramaian ruang kotamu.

140. Barang kali ini bukan tentang kesetiaan mencintai. Pun bukan kesunyian yang tak hendak pergi. Tapi, memang pilihan jatuh ke kamu, yang terbalik.

141. Salah satu kebahagiaan dalam hidup adalah bahwa kau tidak pernah tahu takdir apa yang sedang menunggumu.

144. Tidak banyak orang yang benar-benar berdoa. Jangan-jangan kita memperlakukan Tuhan hanya sebagai pesuruh.

145. Maukah kau sejenak singgah, di pejam mataku?!

146. Sampaikan salam untuk malam selepas hujan. Mari segera memejam, memeluk segala kelam.

147. Tidak semua orang bisa merasakan hal yang sama. Hanya karena aku menyukainya, itu bukan berarti dia juga menyukaiku

148. Pada akhirnya, jika kata tak lagi bermakna maka diam sajalah. Namun bila diam justru tak memberi arti maka berkata-katalah sepuas hati. Siapa peduli.

149. Tentu saja bukan hanya pergi yang sekedar, kunjungilah beberapa tempat baru yang mungkin dapat membuatmu nanti sewaktu-waktu akan ingat jalan untuk pulang.

150. Sementara Tuhan ada dalam setiap butir air hujan. Sungguh kesunyian ataupun keramaian hanyalah terlahir dalam benakmu sendiri. Berliburlah sesekali.

151. Tanah tak pernah berharap tuk dipertemukan dengan daun kering, namun angin memberi jalan tuk perjumpaan mereka.

152. Sementara bola api itu telah tenggelam di arah barat, ruang timur ini bertanya kapan kau kembali, Kapan sunyi ini pergi?!

153. Selamat pagi, senja. Masih menanti bola api merah menggelinding ke sebelah barat? Pulanglah segera ke dirimu sendiri, aku tak kemana mana.

154. Tanpa disadari pulang jumantan tingkat kegantengan ternyata naik 20%.

155. Sebab tak mampu kusampaikan padamu kata yang paling cinta, rindu yang harap temu itu kupasrahkan saja dalam sebaris doa. Tentang seluruhmu pada segala mahaNya.

156. Ingat, dahulu kala ada Jaka Tarub dan seorang bidadari bernama Nawang Wulan yang sangat saling mencinta, namun tetap saja tak bisa hidup bersama.

157. Namun semenarik apapun mereka hanya bisa sekedar di kagumi, bukan tuk di cintai pun dimiliki. Karena manusia dan peri tak bisa tinggal bersama sehidup dan semati.

158. Pada setiap lelah yang selalu membawaku pada ingatan-ingatan akan kepalamu yang bersandar lembut di kurusnya bahuku, aku mengistirahatkan hari.

159. bayangan tiang disana sudah menghilang sedari senja tadi. Bayanganmu tetap berlari dalam khayalan hati sembari ku menunggu pagi. Selamat bermimpi, nona

160. Setelah hampir mampus dikoyak rindu, kini aku semakin takut pada doaku dulu, bahwa di dunia ini aku hanya ingin engkau cintaku satu.

161. Setelah begitu jauh menggali kedasar hati, ternyata semangat itu masihlah ada, meski agak rapuh dan sedikit tersembunyi. Bismillah..

162. Sabtu sore cerah seperti ini ada baiknya digunakan untuk melakukan beberapa kegiatan yang berfaedah. Tidur, misalnya.

163. Ada 3 macam jenis teman. Pertama; yang mencari kita saat dia susah. Kedua; yang menemukan kita saat kita susah.

164. Lagi-lagi tiba di sebuah siang tanpa warna, hanya dingin dan berisik yang entah.

165. Gelap dan sunyi datang lagi, aku kembali. Namun, setidaknya malam ini sekejap engkau melintas, pudarkan sepi dgn hangat yang membekas. Terima kasih, Tidurlah.

166. Aku berhenti mencari dan mulai belajar tak peduli. Meski sesekali masih ku candai hujan, sekedar tuk bohongi sepi.. Yuk ngopi...

167. Menujumu adalah jalan yang panjang. Betapa pun banyak terjal yang kujumpa. Akan terus kuberjalan meski harus dengan membohongi lelah.

168. Tentang sabtu, tidaklah selamanya mengenai kepastian, bisa juga soal kemungkinan-kemungkinan; yang hendak datang atau yang hilang melayang.

169. Saat malam bergerimis hujan gini sebaiknya kita saling rindu saja. Yaa, buat formalitas doank sih.

170. Berkeinginanlah, lalu menderitalah dengan tenang. Sebab sering kali saat perhatian yang kau harapkan, justru abai yang di dapatkan.

171. Beberapa hal dalam hidup memang cukup dinikmati aja, tanpa harus dipikirkan kenapanya. Karena nggak semua jawaban ada pertanyaannya.

172. Penghujung malam, mari renungi dan kembali definisikan diri. Kemudian lelap, dan serahkan semua pada sang pemilik terang dan gelap.

173. faidza azamta fatawakkal alallah, innallaha yuhibbul mutawakkilin..

174. Wanita yang bisa tabah dan setia menjaga hati tuk hanya seorang pria itu, keren sekali. Lebih keren lagi jika si pria itu ternyata aku.

175. Ini tak-tak ku, mana dung-dang-dut mu?!

176. Ini bahuku, mana sandarmu?!

178. Laki-laki pada dasarnya adalah makhluk yang kesepian, sebab dia dilahirkan dalam keadaan kehilangan. Saat dewasa mulailah mereka mencari bahkan terkadang mencuri.

179. Sudah makan singa, sayang?! #eh

180. Pacar tak punya, indomie pun tiada. Duh.

Spoiler for Part VI:
181. Dalam harap doa perasaanku menemukanmu, aku hanya cukup memintamu untuk sekedar sudi bersinggah di hatiku. Setidaknya di tempat terindahnya.

182. Kau menggandeng tanganku, kekasihmu menggandeng kamera.Aku siapa?

183.Kamu itu enak di ajak ngobrol, meskipun cuma dalam lamunan. Selamat malam, kenangan..

184. Masih bertahan dalam kesepian yang kesekian. malam ini bulan pun memainkan perannya dengan baik bersamaku. Lalu engkau pun menertawakan sembari berlari menjauh dalam lamunan.

185. Jika kau berhati-hati, dia takkan meminta jantung padamu. :ngeri

186. Mau tidur, tidurin siapa ?

187. Perasaan ku hanya sebaris kata tertulis "I. L.O.V.E. " yang mungkin tak berarti apa-apa sekarang. Yeah, Sometimes I'd need one more to complete me to be perfect. So, can I have 'U' .?

188. meskipun ia berjalan tertunduk, laki-laki tidak menangis, namun hatinya berdarah.

189. Have a nice dream. My dream..

190. Tapi, akan ku ingat hal itu. Hal yang membuat aku akan ingat tentang apapun masa lalu dirimu. Semoga jika siapapun nanti, penantian yang baik akan menghampirimu dari semua doa .

191. Saya tidak suka sama mantan saya. Bila saya bertemu dengannya, saya akan memaafkannya, mengajaknya ke tempat yang tenang, baru
menghabisinya di sana.

192. Terserah engkau mau masuk dari pintu yang mana saja. selalu terbuka untuk menerima singgahmu di beranda cinta. Tenang saja. Aku ga bakalan nagih uang kontrakan.

193. Sore ini. Daun-daun yang berguguran disini pun tak membenci hembusan angin. Dari jauh ia jatuh tanpa keluh meskipun sebenarnya ia tak ingin

194. menghilangkan dingin dan gelap kenangan dengan membakar 234 dan secangkir kopi tigahuruf di malam tanpa PLN.

195. Terkadang iri melihat tiang listrik yang tegar mematung di seberang jalan itu. Menerangi rumah-rumah meskipun ia sendiri gelap dan teracuhkan

196. Aku hanya bersembunyi di sisi rindu yang meredup. dari jendela kamarmu sekarang ada pelita lain yang bercahaya. Dan bintang di langit kotamu bilang padaku bahwa ia cemburu.

197. Pada waktu sebelas tigapuluh lima, Selamat sholat jum'at untuk para jomblo dan sekitarnya. Okesipbye !

198. Dalam rapuh gelisahmu yang tak kunjung mereda di hujan kini, maka sejenak singgahkan lah cinta pada doa tabah hatiku. Yang setiadanya memang menjadi tempat terakhirmu untuk meneduh..

199. Sedang menunggu calon istri yang sedang sibuk berurusan dengan calon mantannya.

200. Sebentar lagi aku satu bulanan sama pacar aku |
Wuih, kapan? | Kalo kamu
nerima aku hari ini, berarti
bulan depan..

Spoiler for Part VII:
201. Selamat malam singa, sayang?
#eh

202. hilang & berharap kembali
12 Oktober 1985 pukul 19:21

setelah apa yang aku jalani selama ini bersama dengan dirimu. aku baru sadar bahwa orang yang kucintai telah memalingkan wajah untukmenutupi air matanya. aku senang, meski pun aku sudah tak bisa lagi menemaninya.
Sampai saat ini, aku belum tau apa yang ada di hatinya. Maaf,
aku tak bisa sekuat dirimu. Kau pernah ?! Apa itu menyakitkan? Sekarang
mungkin aku akan menerima itu. Dan, Sadarilah bahwa luka hatimu itu hanya sedalam cintamu, kualitas cintamu seharusnya setinggi nilai dari orang yang kau cintai. Bagaimana mungkin engkau menyerahkan seindah- indahnya cintamu kepada orang yang tidak jujur dan palsu? Dan bagaimana mungkin engkau berharap kepada orang yang sampai hati membuatmu bersedih dan menangis? Maka alihkanlah arah cintamu dari orang yang tidak baik bagimu itu, kepada kebutuhan dirimu untuk tampil menarik bagi cinta yang baru. Berterimakasihlah bahwa dia tidak mengenal sisi kehidupanmu yang indah itu.

203. Meskipun anda yang utama saya harapkan, kebaikan hati anda membuat saya hampir meneteskan air mata. Belum pernah saya terharu oleh sebuah nasehat baik dan mendapat senyum seorang wanita di setiap kesakitanku. Tak menyangka bahwa kelakar saya membuat anda bermurah hati mendoakan saya. Dan saya hanya bisa berucap terimakasih. Semoga Allah membalas kebaikan anda.. meskipun

204. Ketika aku melihatmu di persimpangan jalan siang itu, sesaat aku selalu bingung dan merasa dahaga atas keringnya kerinduanku padamu. ah, aku merasa berharap untuk sekejap, senang dan kehilangan dalam hitungan mundur..

205. Untuk malam minggu kali ini, cukup seurian dan terimakasih atas bayanganmu di langit-langit kamarku nanti. Selamat berbahagia yang men(y)enangkan, Nona.

Spoiler for Part VIII:
206. Tugasmu hanya untuk menemaniku meniti jalan mencari ketenangan
dalam derasnya hujan, seperti sore ini. Pejamkanlah

207. Hobinya mengunyah permen karet. Sembari ia duduk menanti hujan, seseorang meraih tangannya. Membimbing ia untuk ikut berjalan bergandengan menuju khayalan.

208. Teori asap rokok; ~asap yang terhembus selalu mendekati orang yang tidak merokok di sekitarnya. ~ Seperti itulah mungkin rinduku bertingkah. Kau mengerti?

209. Seseorang yang menujumu mungkin memberi penderitaan. Terima saja. Biarkan hal itu berkembang biak di sanubarimu. Kelak engkaupun terbiasa sambil engkau titipkan sepatah kata cinta patahmu, Pada Pepatah yang singgah di pena dan gerimis.

210. Lampu berkelip di jeda setiap detik, rinduku bermimpi di jeda setiap rintik. Ah sudahlah.

212. Matahari sudah lama turun tenggelam. Dan bayanganmu masih betah mengobrol dalam benakku. Pulanglah.

213. Sejenak ku rasa mimpiku terdengar lirih dalam keheningan yang begitu dalam. Serupa suara deru motor yang berjalan dari kejauhan.

214. Mengajakku untuk membangun mimpi bersama? Kenapa ga sekalian aja tidur bareng. ? Biar rinduku sekalian mampus.

215. Mengubur aku dalam-dalam di hatimu? Tak masalah. Yang jelas aku masih disana, bukan ? Kalau masih tak mau terbebani olehku, buanglah saya(ng)

216. Seketika dinginnya malam mengusik ke(te)nanganku malam tadi. Menjadikanmu terlihat jelas di langit-langit kamarku dalam pelita rindu yang lupa ku padamkan

217. Sholat subuh lah terlebih dahulu, lalu bermimpi denganmu kembali meskipun engkau tak membutuhkan itu. Kata ibu, di suatu pagi.

218. Aku hanya memikirkan pundakku yang mampus di koyak rindu. Tanpa sandarmu

219. Untuk malam minggu kali ini, cukup seurian dan terimakasih

220. Kamu itu enak di ajak ngobrol, meskipun cuma dalam lamunan. Selamat malam, kenangan.. (ane ga kepikiran bikin kata-kata serumit ini)

221. Bersungguh-sungguhlah wahai kau para pejuang harapan. Luruskan niat, jernihkan pemahaman. Saat kau jatuh, bangunlah. Bila kau cinta, perjuangkanlah. Bila kau sakit, berobatlah ke dokter. Semangat!

222. Itulah dari maka, sering kali yang mengerikan menakutkan dan susah kali di ubah bukanlah hal yang ada di luar sana, tapi yang ada di kepala kita, di jejantung hati kita.

223. Pikiran melahirkan kata, kata melahirkan tindakan, tindakan melahirkan kebiasaan, kebiasaan melahirkan karakter, karakter melahirkan nasib. Nasib ka kurung ku iga.

224. Satu lagi hari pergi, satu lagi malam usai. Dan segala keraguan pun ketidaktahuan masih saja setia menemani, di sini. Sabahul khair..

225. Wayah segini makan? Entahpun ini dalam rangka gladi resik jelang ramadhan ?

225. Ini musim kemarau kesekian, Nona. Namun angin dini hari masih saja setia menceritakan tentang segala perihalmu tentang segenap bahagiaku yang tlah hilang dicuri waktu, kepadaku.

226. Siang panas kayak gini enaknya sih tiduran di ruangan berangin segaratau di pundak kamu ? Terserah sih..

227. Katanya sih, kalo di pertengaham malam kita tiba2 kebangun, itu pertanda ada yang sedang memperhatikan kita dari jarak dekat. Coba cek deh.

228. Selamat Malam Minggu bagi yang merayakan. Selamat Sabtu Malam buat kalian yang baca ini. Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Merdeka..

229. Seringkali, pagi hanyalah sekumpulan doa yang tak lelah diputar ulang, menanti sebuah kabar baik dan sesosok kita yang belum juga datang.

230. Ada yang mencintaimu seperti udara. Tak pernah kaulihat, tapi selalu ada. Maka enyahkanlah segala keluh sepimu, sebab semua kesedihan akan takluk pada caramu bersyukur.

231. If you were here tonight, I would dance with you, with the stars shining above us. Singing like a bird, for your lonely heart. Dancing through the night, with your every breath...

232. Ada ingatan-ingatan yang saat melintas begitu pandai membuat bibir penuh senyuman. Beberapa lain justru hadir membuat sakit. Butuh banyak pemikiran untuk bisa kembali jatuh menemukan hati yang cintanya paling baik.

233. Bila bukan sebabmu, manabisa aku sefasih ini mengenal sunyi..

234. Meski telah terbiasa dengan kehilangan, namun tetap saja perihal melepaskan rasa takkan pernah bisa sebercanda itu.

235. Begitulah, pada dasarnya hidup adalah kesunyian masing-masing, sementara kita adalah tuan bagi keheningan diri kita sendiri.

236. Saat sudah tidak dibutuhkan, seseorang akan dengan mudah meninggalkanmu. Dan kau tak akan terlalu mempersoalkannya, karna merasa telah terbinasa.

237. Sebuah jumat siang yang cerah, sudah lama rasanya tidak ngopi berdua saja dengan seorang teman perempuan, sambil membicarakan banyak hal, mulai dari buku, film, serta kehidupan. .

238. Kadang aku bernyanyi, sekedar salah satu cara untuk pura-pura tak merasa sepi. Untunglah, nada dan suara tak lupa Tuhan ciptakan. Tuhan memang adil, yang gak adil mah biasanya wasit.

239. I'm all alone, the room are getting smaller....

240. "keheningan adalah bahasa Tuhan, sedang lainnya cuma terjemahan yang buruk." Kata Rumi dalam salah satu tulisannya.

241. Sunyi, keheningan dan rasa sepi; bila kau musuhi justru hanya akan menjadikan mereka sebuah orkestra yang membuat hatimu tuli.

242. Ketiadaan pun kesendirian, memang bisa melatih dan membuat hati lebih tangguh, namun pastinya sebagian diri kita yang lain tak dapat dipungkiri akan merasa sepi.

243. Memiliki seseorang yang kadang terasa cerewet karena selalu bertanya kenapa anda belum pulang atau belum tidur saat malam telah larut, adalah kebutuhan dasar manusia modern saat ini.

243. Perempuan yang baik di dalam kepala laki-laki, akan membuat laki-laki itu ingin selalu memperbaiki dirinya sendiri

244. Langit malam, selalu saja memberi warna lain dari hidup. Andai saja waktu malam di tambah, niscaya akan tumbuh ribuan warna..

245. Sumpah dan janji itu terkait dengan etika. itulah kenapa Bisma tak menikah karena dia terikat etika sumpah. sikap konsisten terhadap kata-kata. ~

246. Derai hujan dan tilawah merdu, tetes nan basahnya mengilaukan bayang wajahmu, jatuh berdebur ke dalam hatiku. Garut pagi, Allahumma shayyiban nafi'a.

247. Namun ah sudahlah. Perihal kita, biarkan saja waktu yang bicara.

248. Sementara di sebuah jauh yang entah, aku terus membayangkan bagaimana nanti paras senja, saat ia berkaca di bola matamu. Akankah memerah karena kalah, ataukah mengabu karena sendu?

249. Langit siang yang kelabu, tiba-tiba di rerimbun kepalaku seperti ada yang sedang mengetuk pintu. Ah, paling juga rindu.

250. Kamu yang rajin ngucapin selamat pagi pasti bakal kalah juga sama yang nyamperin dan ngajak sarapan bareng. (Tukang bubur ayam, red)

Spoiler for Part IX:
251. Aku tidak peduli engkau memilih siapa yang akan menjadi penguasa di hatimu. Aku ini senja. Tempat yang selalu kosong dan sepi dalam menuang harapan patah atas penantian yang tak berujung semua orang. Sedikit demi sedikit engkau akan mengakui kebohongan ini. Meski matahari tak akan pernah terbenam sekalipun. !!

252. Definisi melamun menurut yang biasa berjemur di bawah teriknya matahari ; Tidak semua yang sendirian itu keren. ada yang menyakitkan lho. dan lagi, yang keren itu tidak sendirian. mengerti ?
( agan ngerti? )

253. Dalam lamunan derasnya hujan, separuh hatimu yang berpadu saat bersama dulu menjadikan tulang rusuk ku yang hilang kembali menyatu. Terimakasih, rindu

254. Jangan banyak berfikir saja, tapi perbanyak istighfar. Sebab Allah membuka dengan istighfar pintu-pintu yang tak terbuka dengan berfikir.

255. Ramadhan, bukan peningkatan mendadak praktik keagamaan. Melainkan potensi asli yang sebenarnya mampu kita lakukan sehari-hari. Nabi berkata : "Segala sesuatu ada pintunya, dan pintu peribadahan adalah puasa" ~ HR ibnu Al Mubarrak

256. Kematian tak disebabkan oleh umur yang berakhir tapi ketika orang-orang telah melupakan kita, ketika cinta meninggalkan kita dan ketika segala harapan semakin jauh tak mampu direngkuh.

257. Seketika, seluruh perasaan rasa lapar mulai memudar, saat setitik ingatan bernama kamu perlahan membaur memenuhi setiap jengkal rongga di kepalaku.

258. Selamat sahur yang kesekian, perempuan kesayangan. Makan yang banyak dan minumlah secukupnya. Jangan lupa selipkan namaku dalam untaian kebaikan-kebaikan doa subuhmu.

259. Perbaiki hatimu, maka Allah akan memperbaiki akhlakmu. Cintai Allah, maka Allah akan mengirimkan seseorang yang Dia cinta untuk mencintaimu.

260. Beberapa perasaan sakit dan luka ada yang tak bisa dilupa, tak bisa hilang, terus dibawa sepanjang hayat manusia. Ada yang menjadikannya pelajaran, ada yang menjadikannya serasa beban.

261. Mungkin kadang sepertinya kau aku diamkan, namun tak berarti kau aku acuh dan biarkan. Sebab tetap selalu ada untukmu doa yang kusampaikan dalam hening, disetiap lantai menyentuh kening.


262. Sepertinya benar deh, masa remaja adalah masa yang paling gagah berani. Beranjak dewasa orang jadi penakut, bahkan tidurpun mau nya di temani, tak ingin sendiri.

263. Sebab adalah nyawa bagi cinta. Sebab sembarangan hanya akan menumbuhkan cinta sembarangan.

264. Adanya janji manis, adalah bukti betapa hidup ini pahit.

banget bokap ane !! nya dong gan


265. Terkadang, rindu seperti detak jam dinding di pertengahan malam yang hening. Begitu tajam. Begitu merajam segala kenang.

266. kita, manusia, belajar dari kegagalan dan bukan dari kesuksesan. Kata Prof. Dracula.

267. Kita terlalu sibuk mempersiapkan hari esok, sampai lupa untuk menikmati hari ini. Setidaknya untuk sesaat mari kita rilex dan jadilah alasan bagi orang lain tuk tersenyum.

268. Pada hakikatnya, semua perkara di dunia ini terus bergerak, tak ada yang diam, termasuk waktu. karena itulah masalalu memang harus ada. Fungsinya untuk diingat, namun bukan tuk membuat kepala sakit.

269. Everytime you go away i still here, even when you turn away, my love is here. Coz yours angel eyes shining in my live.

270. Everytime you likes what i have write, i feel like i have wings to reach you..


271. Belajarlah melepaskan, itulah hakikat hidup. Termasuk terhadap jabatan, kesenangan, kekayaan, kenikmatan dan pada banyak hal lainnya. Peganglah kuat pada Allah saja.

272. Semangat anda boleh saja padam, tapi jangan berhenti menyemangati orang lain untuk lebih baik. Sebab cara terbaik untuk bahagia adalah dengan membahagiakan orang lain.

273. Kemarin, saya merasa pintar sehingga ingin mengubah dunia. Hari ini, saya merasa bijak sehingga harus lebih dulu mengubah diri sendiri. ~ Rumi

274. Aku merasa bodoh di depan beringin. Merasa lemah di depan mawar. Dan merasa jelek di kaca. Lalu merasa ganteng di depan pacar lama mu.

275. Meski telah terbiasa dengan kehilangan, namun tetap saja perihal melepaskan rasa takkan pernah bisa sebercanda itu.

Spoiler for Part X:
276.Seseorang tampak begitu pemurung tak bergairah. Bukan, bukan sebab terjebak pada masa lalu. Namun sekedar berada dalam episode dimana semua hal menenangkan dulu, terasa sangat dirindukan.

277. Malammu, malamku dan malam-malam kita sebenarnya mungkin saja sama. Satu gelas hitamnya kopi di tangan, dan satu dua kalimat yang entah ditujukan untuk siapa.

278. Ada ruang kosong dibalik saku kemeja sebelah kiriku, menunggu untuk kau isi.

279. Waktu adalah fana, sementara kita begitu abadi. Lalu, kekasih, di manakah itu cinta? Bilajika umurku masih panjang tersisa, izinkan aku tuk terjatuh lagi.

280. Minggu terakhir bulan Agustus. Kamu, perasaan-perasaan yang tak pernah usai dan pencarian-pencarian yang belum juga terhenti.

281. Pernahkah anda berterima kasih pada sang penemu listrik? Kalo mencaci maki PLN ketika listrik tiba-tiba padam?

282. Tak semua orang tau bagaimana cara yang benar untuk menikmati pagi.

283. Mengawali pagi dengan secangkir hitamnya kopi. Dan aku tiba-tiba merasa sangat kehilangan.

284. Kau menghilang. Aku tak mencari. Aku merindukan. Kau tak tau. Hingga begitu ingin aku pergi, berlari dan tak lagi perduli dengan semua yang terjadi.

285. Sebuah pagi yang nyakitu tea, bila siang nanti aku merasa begitu lelah, bolehkah aku beristirahat sejenak dari dunia, di dalam hatimu?

286. Banteng, Bangkong, Bayawak, nyewri cangkeng nyewri tonggong nyewri awak. . .

287. Langkahku, mengajak kau untuk temaniku, walau kau mencoba bisu. semakin kudekati, dirimu yang tak perduli, daripada termangu sepi...

288. Pagi kembali. Angin berhembus. Dan kita mesti tetap harus hidup.

289. Aku membayangkan, cinta sedang bersusah payah mencari cara untuk mempertemukan kita. Sesaat kemudian kutertawa, melihat rindu yang kebingungan harus melangkah kemana.

290. Pagi mati. Matahari gantung diri. Apa kabar kawan, masih hidup? Agustus kesekian, hari kelima. Dibalik selimut, seseorang terlihat sedang sibuk bermain petak umpet dengan kesedihannya

291. Selamat pagi mahluk bumi. Hiduplah dengan baik, penuh syukur dan bahagia. Janganlah kau sesial sambel goreng ati, udah dipotong-potong, digoreng, eh dicabein juga. Perih.

292. Lebaran kali ini sungguh berbeda, tak ada lagi yang nanya kapan aku nikahnya. Sepertinya mereka sudah putus asa.

293. Halal bihalal tlh usai. Anak2 perempuan tetangga kini dah pada tumbuh gede dan menawan. Sayangnya tak satupun dari ibu mereka yang menepuk pundakku sambil ngucapin "mohon mantaf lahir batin"

294. Lebih baik menunggu waktu maghrib, daripada menunggumu.

295. Ramadhan, bukan peningkatan mendadak praktik keagamaan. Melainkan potensi asli yang sebenarnya mampu kita lakukan sehari-hari. Nabi berkata : "Segala sesuatu ada pintunya, dan pintu peribadahan adalah puasa" ~ HR ibnu Al Mubarrak

296. Perbaiki hatimu, maka Allah akan memperbaiki akhlakmu. Cintai Allah, maka Allah akan mengirimkan seseorang yang Dia cinta untuk mencintaimu.

297. hheeuuuaaaaayyyyyy

298. Jika kau mengambil jalan yang mudah karena jalan yang lain terasa sulit, maka mimpi hanya akan tetap menjadi mimpi.

299. Heh Kamu kalau nulois diarynya sedih terus lama-lama saya bahagiain lho.

300. Pria berumur cukup, selalu senang bermain dengan anak balita perempuan, bawaan ingin segera menikah mungkin. Sayang, nasibnya belum cukup.

Spoiler for Part XI:
301. Malam ini saja, culiklah aku ke utara, Nona. Jauh dari seluruh dingin ini, berjarak dengan segala yang bernama kesunyian.

302. Bila pada akhirnya semua akan kembali ke segalanya. Engkau kah segalaku?

303. Malam telah pergi, membawa seluruh pekat dan sunyi. Namun tetap saja, pagi hanyalah ilusi, sementara siang tak lebih dari sekedar sekumpulan bayang-bayang.
Mampus kau !!

304. Aku menyempatkan diri tuk menyapamu ketika langit begitu panas, berharap bisa teduhkanmu di seluruh hembusan nafas. Ketika engkau sejenak mengisi rongga kosong di kepalaku.

305. Pagi tak selalu datang dengan warna biru. Di abu-abunya sudut kamarku ada yang sedang menggigil sendiri, lalu coba menghangatkan dadanya dengan masa silam. Dan Kepalaku berat sekali.

305. Dengan secangkir puisi dan seteguk kopi, tak ada salahnya kita awali pagi. Menerbangkan larik gagal pada langit yang senantiasa bersyair, seperti rumput sarut yang berlindung aman di bawah pohon beringin. Ya. ! Disana ! Kau akan menemukannya di sela akar kehidupan yang menyempit - dan kadang berakhir selalu pahit- berdiri di antara duri bunga mawar dan terhalang masalalu.

306. Saya merasa bahwa saya sanggup memberimu bahagia pada tiap-tiap saat hidupmu, yang tiada seorang perempuan agaknya yang sanggup menandingi saya di dalam alam ini dalam kesetiaan memegangnya, sebab sudah lebih dahulu digiling oleh sengsara dan kedukaan, dipupuk dengan air mata dan penderitaan.
Dan kalau sedianya engkau kabulkan, kalau sedianya engkau terima kedatanganku, saya pun tidak meminta upah dan balasan dari engkau. Upah yang saya harapkan hanya dari Dia, Allah Yang Maha Esa, supaya engkau diberi-Nya bahagia, dihentikan-Nya aliran air matamu yang telah mengalir sekian lama.


307. Pagi-pagi, sebelum perempuan-perempuan membawa niru dan tampian ke sawah, dan sebelum anak muda-muda menyandang bajaknya; sebelum anak-anak sekolah berangkat ke sekolah, dan sedangkan aku duduk di sampingnya, mendendangkan lagu-lagu persia. Yang nyata akan meratapinya bila orang mengerti syairnya itu.

Spoiler for Part XII:
308. Di seluruh dunia tidak ada tempat yang lebih kering daripada lereng utara Sierra Blanco. Sejauh mata memandang, terbentang padang pasir yang Iuas, semuanya tertutup debu garam alkali, di sana-sini diselingi oleh semak chaparral yang pendek. Di kaki langit tampak sederetan puncak pegunungan dengan pucuk-pucuk bergerigi yang dihiasi salju. Di kawasan ini tidak terlihat tanda-tanda kehidupan, atau apa pun yang mendekati kehidupan. Tidak ada burung di langitnya yang biru keabuan, tidak ada gerakan di tanahnya yang kelabu pudar... yang ada hanyalah kesunyian total. Sekalipun sudah berusaha keras, siapa pun tidak akan mampu mendengar apa-apa; hanya kesunyian—kesunyian total yang mematahkan semangat.

Namun jika seseorang memandang ke bawah dari Sierra Blanco, ia akan melihat jalan setapak yang berliku-liku di padang pasir dan akhirnya menghilang di kejauhan. Jalan setapak itu dipenuhi bekas-bekas roda kereta dan jejak kaki sekian banyak petualang. Di sana-sini bertebaran benda-benda putih yang kemilau tertimpa cahaya matahari, mencuat di tengah-tengah tumpukan garam alkali yang pudar. Dekati, dan periksa benda-benda itu! Benda-benda itu adalah tulang-belulang; beberapa besar dan kasar, lainnya lebih kecil dan lebih halus. Yang pertama milik lembu jantan, dan yang kedua milik manusia. Orang bisa menyusuri rute karavan sejauh 240 kilometer itu dengan mengikuti tebaran tulang-belulang mereka yang tidak mampu melanjutkan perjalanan.

Di sinilah, pada 4 Mei 1847, seorang pengelana tunggal berjalan. Penampilannya bagaikan setan kawasan ini. Seorang pengamat mungkin akan menemui kesulitan untuk mengatakan apakah usianya empat puluhan atau enam puluhan. Wajahnya kurus dan kasar, kulitnya yang kecokelatan tertarik rapat di tulang-tulang pipinya yang menonjol, rambut dan janggutnya cokelat beruban, matanya cekung dan membara dengan semangat yang tidak wajar, sementara tangannya yang mencengkeram senapan hampir-hampir sama kurusnya dengan kerangka. Ia berdiri dengan bertumpu pada senapannya. Sosoknya yang jangkung dan tulang-tulangnya yang besar menunjukkan tubuh yang liat serta kuat. Tapi wajahnya yang kurus dan pakaiannya yang menjuntai menutupi tubuh yang kurus kering, menyatakan bahwa pria ini sedang sekarat—sekarat karena kelaparan dan kehausan.

Ia telah bersusah payah menuruni jurang lalu naik kembali, dengan harapan yang sia-sia untuk menemukan air. Sekarang padang garam yang luas membentang di depan matanya, dan sabuk pegunungan yang buas di kejauhan, tanpa ada tanda-tanda kehadiran tanaman atau pohon di mana pun. Ia memandang ke utara, timur, dan barat dengan liar, lalu menyadari bahwa pengembaraannya telah berakhir. Di sini, di dataran yang kering kerontang ini, ia akan tewas.

"Yah, di sini atau di ranjang empuk dua puluh tahun lagi, sama saja," gumamnya sambil duduk di bawah keteduhan sebongkah batu.

Sebelum duduk, ia meletakkan senapannya yang tidak berguna serta buntalan besar yang tersandang di bahu kanannya. Tampaknya buntalan itu terlalu berat baginya, karena sewaktu ia menurunkannya ke tanah, buntalan tersebut jatuh dengan agak keras. Seketika terdengar jeritan tertahan, dan dari sela-sela buntalan itu, muncul sebentuk wajah mungil yang ketakutan dengan mata cokelat yang sangat cemerlang.

"Kau membuatku sakit!" terdengar suaranya yang kekanak-kanakan dan bernada marah.

"Sungguh?" jawab pria itu. "Aku tidak sengaja." Sambil berbicara, ia membuka buntalan abu-abu itu dan mengeluarkan seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun. Anak itu cantik, sepatu serta gaun merah muda yang dikenakannya jelas menunjukkan bahwa ia dirawat dengan baik oleh ibunya. Meskipun wajahnya tampak pucat dan kelelahan, lengan dan kakinya yang masih berisi menunjukkan bahwa anak itu tidak semenderita teman seperjalanannya.

"Bagaimana sekarang?" tanya pria itu cemas, karena si gadis cilik terus menggosok-gosok rambut keriting pirang yang menutupi belakang kepalanya.

"Cium agar sembuh," katanya, sambil menunjukkan bagian yang terluka kepada pria tersebut. "Itu yang biasa dilakukan Ibu. Di mana Ibu?"

"Ibu sudah pergi. Kurasa kau akan segera bertemu dengannya."

"Pergi!" kata gadis kecil itu. "Kenapa Ibu tidak mengucapkan selamat berpisah? Biasanya Ibu selalu bilang... kalau ke rumah Bibi untuk minum teh saja, Ibu selalu bilang. Sekarang Ibu sudah pergi tiga hari. Aduh, di sini kering sekali, ya? Tidak ada air atau makanan?"

"Tidak, tidak ada apa-apa, Sayang. Kau hanya perlu bersabar sebentar, dan sesudah itu kau akan baik-baik. Sandarkan kepalamu kepadaku, kau akan merasa lebih enak. Tidak mudah untuk bicara dengan mulut kering, tapi kurasa kau harus mengetahui keadaan kita. Apa yang kau pegang itu?"

"Barang-barang cantik! Barang-barang bagus!" seru gadis kecil itu dengan penuh semangat, mengacungkan dua keping mika yang berkilau-kilau. "Sesudah tiba di rumah nanti akan kuberikan pada kakakku, "

"Well, tadinya kita mengira, kita akan bertemu sungai lagi. Tapi ada yang tidak beres... kompas, peta, atau apa... dan sungainya tidak ketemu. Kita kehabisan air. Hanya ada beberapa tetes untuk bocah kecil seperti dirimu, dan... dan..."

"Dan kau tidak bisa mandi," gadis kecil itu memotong, menatap wajah temannya yang muram.

"Ya... kami juga tak bisa minum. Dan Mr. Bender, dia yang pertama pergi, Sayang... ibumu."

"Kalau begitu, Ibu juga mati!" seru si gadis kecil, menutupi wajah dengan celemeknya dan menangis terisak-isak.

"Ya, semuanya sudah meninggal, kecuali kau dan aku. Aku menggendongmu ke sini karena kupikir masih ada kemungkinan kita menemukan air, tapi ternyata keadaannya tidak bertambah baik. Sekarang kesempatan kita sangat kecil!"

"Maksudmu kita juga akan mati?" tanya si gadis kecil. Tangisnya terhenti sejenak dan ia mengangkat wajahnya.

"Kurang-lebih begitulah."

"Kenapa tidak kaukatakan dari tadi?" Gadis kecil itu tertawa riang. "Kau menakut-nakuti aku saja. Mati sih tak apa-apa, soalnya kita akan bertemu Ibu."

"Ya, kau akan bertemu ibumu, Sayang."

"Kau juga. Aku akan cerita pada Ibu, kau baik sekali padaku. Taruhan, Ibu pasti menya-but kita di pintu surga membawa seguci besar air dan kue gandum yang sangat banyak. Panas-panas, kedua sisinya dipanggang... aku sukanya begitu. Berapa lama lagi?"

"Aku tidak tahu... sebentar lagi mungkin." Pandangan pria itu terpaku ke kaki langit di utara. Dalam kebiruan langit muncul tiga bintik yang semakin lama semakin besar, begitu cepat ketiganya mendekat. Sesaat kemudian, ketiga bintik itu telah menjadi tiga burung besar kecokelatan, yang terbang berputar-putar di atas kepala kedua pengelana tersebut, lalu mendarat di bebatuan di atas mereka. Ketiganya adalah burung pemakan bangkai yang datang mendului maut.

"Ayam!" pekik si gadis kecil dengan gembira, ditunjuknya ketiga burung nazar sambil bertepuk tangan memanggil mereka. "Tuhankah yang menciptakan tanah ini?"

"Tentu saja," sahut temannya, agak terkejut mendengar pertanyaan yang tidak terduga itu.

"Tuhan yang menciptakan ini," kata si gadis kecil. "Tapi kurasa bukan Dia yang menciptakan tanah ini. Pekerjaannya kurang bagus. Mereka melupakan air dan pohon-pohon."

"Bagaimana kalau kita berdoa?" tanya pria itu.

"Sekarang belum malam," tukas si gadis kecil.

"Tidak masalah. Memang bukan waktu yang biasa, tapi aku yakin Dia tidak keberatan. Kau ucapkan saja doa yang biasa kauucapkan setiap malam di kereta sewaktu kita di dataran."

"Kenapa kau tidak berdoa sendiri?" tanya gadis kecil itu penasaran.

"Aku tidak ingat. Aku sudah tidak berdoa lagi sejak tinggiku separo senapan ini. Tapi kurasa tidak ada kata terlambat untuk berdoa. Ucapkan doamu keras-keras, aku akan mengikutinya."

"Kalau begitu kau harus berlutut, dan aku juga," kata si gadis kecil sambil membentangkan selendang abu-abu yang tadi membungkusnya. "Kau harus mengangkat tanganmu seperti ini. Dengan begitu, kau merasa lebih enak."

Seandainya di tempat itu ada manusia lain, mereka pasti akan terpana menyaksikan pemandangan yang ganjil itu. Gadis kecil yang polos dan petualang berpengalaman, berlutut bersama-sama di atas selendang sempit. Wajah gadis kecil yang elok dan wajah petualang yang kasar, keduanya menengadah ke langit yang tidak berawan, sementara dua suara—yang satu pelan dan jernih, yang lain berat dan serak—bersatu meminta belas kasihan dan pengampunan. Setelah berdoa, kedua orang itu kembali duduk di bayang-bayang batu besar hingga si gadis kecil jatuh tertidur, meringkuk di dada pelindungnya. Pria itu terus mengawasi sang bocah, tapi akhirnya ia tak mampu menolak panggilan alam. Sudah tiga hari tiga malam ia tidak membiarkan dirinya beristirahat. Perlahan-lahan kelopak matanya yang lelah menutup, kepalanya menunduk semakin lama semakin rendah ke dada, hingga janggut lebat pria itu menyatu dengan rambut pirang keriting si gadis kecil, dan keduanya tidur sama nyenyaknya. Setelah atau sebelum semuanya berakhir..
( Jika agan mengetahui sepatah kalimat ini, agan akan menemukan benang merahnya )

309. Pukul sekian. Pagi begitu diam. Sementara ingatan kita telah terkunci di sana, dihari-hari yang lalu, di sepi yang begitu beku.

310. Pertengahan oktober yang kering, hujan yang dinanti-nanti belum juga tiba. Sementara hal yang dipercaya sebagai sesuatu yang abadi telah lama pergi, hilang dan mati. Cinta.

311. Seringkali, yang terbaik datang dengan cara terburuk. Dan hal terburuk datang dengan cara yang paling baik. Dan selamat pagi hal-hal baik. Mari kita bertemu hari ini..

312. Seseorang pernah menulis tentang kabut dan hal-hal yang tak ingin selesai. Lalu pagi ini pun tiba, dengan berbagai macam rasa yang entah akan dibawa kemana.

313. Siapapun boleh tidur, asal tunduh. Jangan lupa heuay dulu..

314. Jika merasa sunyi, ciptakan keramaian sendiri, walau hanya dalam kepala. mungkin kau dapat memulai dengan secangkir mocca.

315. Jumat ke jumat berganti, namun belum saja aku berani. Merengkuh senyum yang kau tawarkan, meneguk kopi yang kau seduhkan. Kesendirianku, kesendirianmu, bukankah seharusnya tak seperti itu.

316. Semua sibuk tertunduk dengan sepi dalam genggaman, saling heboh menampilkan ego keakuan, melupakan sapa, obrolan dan keramahan khas orang timur.

317. Kekasih, diantara kita entah siapa yang sedang mendustai takdir. Kita tak saling mencari. Kita tak saling menanti. Kita tak saling mengenal.

318. Siang yang sangat panas. Buat kamu yang disana ya pokoknya jangan lupa don't forget aja deh.

319. Apalah artinya menyesali hari kemarin. Hari ini adalah hari ini. Esok akan tetap menjadi esok. pada akhirnya waktu memang harus dihabiskan. jika tidak, waktu tetap akan habis dengan sendirinya

320. Jika waktunya tiba, sembunyi dibalik selimut kegelisahanpun takkan bisa memberikan pertolongan apa-apa.

321. Apa yang kau temukan selama pencarianmu itu adalah hadiah dari Tuhan untukmu. jika terus diri berdiam, takkan kau dapatkan apapun kecuali rasa kehilangan.

322. Terkadang kita dipaksa berdamai atas isi kepala sendiri.

323. Di setiap senja, tersembunyi sebuah lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang sedang merindu.

324. Maksud hati memeluk gunung, apa daya kasih tak sampai..

325. Malammu, malamku dan malam-malam kita sebenarnya mungkin saja sama. Satu gelas hitamnya kopi di tangan, dan satu dua kalimat yang entah ditujukan untuk siapa.

326. If I were a bluebird, I could sing a song. for you, it's just for youuu..

327. Mudah sekali merasa penuh harapan di hari indah seperti ini. Tapi akan ada masa gelap menanti kita kedepannya. Ada masanya kalian merasa kesepian. Itulah saat dimana harapan sangat dibutuhkan.

328. Tak peduli betapa sulit masa yang kau jalani atau betapa menderitanya dirimu. Kau harus berjanji kepadaku, Bahwa kau akan terus memegang teguh harapanmu.

329. Teruslah Bertahan. Kita harus bangkit dari penderitaan kita. Harapanku untuk kalian. Kalian akan menjadi Harapan. Semua orang membutuhkan harapan.

330. Walaupun kita gagal, Itu tetaplah cara terhebat menjalani hidup ini. Saat kita memandang sekitar kita hari ini. Ke semua orang yang membantu kita Menjadi seperti sekarang ini.

331. Aku tahu rasanya mengucapkan selamat tinggal, Tapi kita akan membawa kenangan satu sama lain. Ke dalam perjalanan hidup kita selanjutnya. Untuk mengingatkan diri kita sebenarnya. Dan akan menjadi apa kita !

333. Saat itu akhir September, dan badai musiman sedang mengamuk. Sepanjang hari angin bertiup dengan kencang, dan hujan turun dengan lebatnya sehingga suaranya yang menghantam jendela-jendela rumah terdengar memekakkan telinga. Kami yang tinggal tepat di tengah kota pun, mau tak mau harus meninggalkan sejenak kegiatan sehari-hari kami dan mengakui kedahsyatan gejala alam yang sempat mengusik peradaban manusia, bagaikan binatang buas yang menggeram di balik jeruji kandangnya ini. Ketika malam semakin larut, badai semakin mengganas dan bunyi deru angin bagaikan raungan anak kecil yang terdengar melalui cerobong asap. Dia duduk dengan murung di samping perapian sambil mencoret-coret lantai dengan lidi. Sedangkan aku duduk di depannya, asyik membaca cerita petualangan di laut, karangan Clark Russel. Suara badai yang mengamuk di luar sana lama-kelamaan menyatu dengan cerita yang sedang kubaca. Seketika aku merasa kasihan; -bahwa aku tidak sendirian disini- sehingga aku memutuskan untuk tinggal sementara bersama lamunannya. Menjaga dia agar tak terlalu bersumpah-serapah untuk nama yang paling ia harapkan (dulu).. Meski aku harus menerima ia saat berbagi kesakitan atas cinta.

334. Untuk apa aku mengharapmu lagi ? kau lah sudah menjadi milik orang lain. Jarimu sudah sesak atas inai-inai yang kau pasang indah di jari manis, berkalung satin. Kalau saja kau hidup beratus-ratus tahun yang lalu, orang pasti sudah membakarmu !!

335. Jadi kawan, bagaimana ?? Atas semua yang kau lakukan sampai hari ini, sampai sebelum semuanya mati ; tidak kah kau simpan untuk kenangan cucumu nanti ? Maka dari itu, buatlah hidup menjadi berharga untuk diri sendiri sajalah. Jangan berbual dalam berjuang. Hal itu akan membuatmu susah untuk bertahan.
336. Bayangan senyummu serupa angin senja yang kencang berhembus dan bersiul-siul di telinga. Berlalu
begitu saja menambah kedinginan dalam keheningan

Spoiler for Part XIII:
336. Pasti kau telah lupa, sementara aku tetap saja masih mengingat. Detik saat kau putuskan tuk pergi, detik dimana seluruh harap asaku mati, hingga kini.

337. Biasakan tidur hanya sekedar formalitas saja, biar hidup menjadi lebih life.

338. setiap hal akan pasti selesai pada waktunya, namun betapa sungguh rinduku padaMu ini tidaklah mengenal akhir. Maka akan seberapa lamakah selamanya itu?!

339. Tidur adalah kesunyian masing-masing. Sementara mimpi adalah ingatan paling hening.

340. Keinginan itu tiada batasnya. Keheningan sepertiga malam kerap membantu kita bebas dari berkeinginan. Allah menganugerahkan hati yang merasa cukup.

341. Musim kering telah pergi, kini ia mulai mengelus kehilangan yang merongga di dadanya, menyeka basah yang menggerimis dipipinya, lalu bertanya, "apa kabar?"matabelomatabelo

342. Carilah hatimu pada 3 tempat: Ketika mendengarkan Al-Qur’an, ketika berada di majelis-majelis ilmu dan ketika sendirian.

343. Bersyukurlah atas apa yang kita raih saat ini, karena sesungguhnya hari esok adalah tomorrow.. ( Bokap ane pinter kan ? )

344. Oh mungkin ku bermimpi, menginginkan dirimu..

345. Beberapa orang merasa kalah, lalu lelah dan hilang arah. Pada akhirnya pasrah menjalani hidup seperti sampah.

346. Entah apa yang sebenarnya dilakukan, mencari keberadaanmu atau membuktikan ketidakberadaanmu?

347. Tak ada hidup yang tanpa penyesalan, beberapa orang mengeluarkannya dengan kemarahan, kesedihan dan tangisan. Sesekali luapkan saja, sebab memendamnya lebih akan sangat membahayakan.

348 Sahabat datang dan pergi kadang mengkhianati, begitupun rasa cinta kadang mengecewakan..

349. Sekumpulan lagu Scorpio dan kamu di ingatan. Sebaik-baiknya perkara yang masih setia menemani makan siang saya.

350. Aku hanya hafal keindahan matamu tanpa tahu ada cerita apa di dalamnya. Aku tidak melewatkan hal itu. Dan kalau bercerita tentang luka, entah engkau atau siapa yang memulainya. Tanpa sebab ia pun bersinggah padaku juga.

Quote:TWITTER: Quote:
Adnan Deris
@_adeha_

Kumpulan Sajak Adnan Dede Haris, Sastra Puitis Dikala Remaja
Source: http://www.kaskus.co.id/thread/52a186bff8ca1792598b45c1/bokap-setuju-ane-sebarin-di-kaskus-puitis-gan Category:
My Story
Pasang Iklan
close